Minggu, 21 Agustus 2016

Lirih rindu tak tau arti

Biarkan aku tetap mengingatmu..
Hembusan nafas, dan semilir angin kala itu..
Terngiang wajahmu berhadapan denganku..
Ku peluk karna ku tak tau malu..
Menerka apa yang kau katakan padaku,
Cacian dan hinaan slalu ku trima ,
Untuk kebahagianmu..
Bingkisan tuhan, kado kecil..
Yang di bungkus manis oleh-Nya
Dan jatuh menjadi sesuatu yang besar..
Alangkah berharganya mimpi kecil ini
Untuk kesekian kalinya aku kecewa
Kecewa oleh ke egoisan pecundang
Aku tak pantas , tak berarti apapun..
Adakah seorang yg datang dan memungutku dari kekacauan ini..
Mengajariku bahagia dan hidup bebas..
Seperti awan.. layaknya burung..
Seperti awan.. layaknya burung..
Aku menyerah oleh sesuatu yg ku anggap tak adil..
Aku menyerah karna aku pecundang..
Aku menyerah karna aku tak tau apa yang harus kulakukan..
Aku.. menyerah.. sampai suatu nanti ,
Aku punya alasan tuk bertahan..
Dan membungkam omong kosong yg ada di otakku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar