Jumat, 28 Oktober 2016

Harapan terhadap Merpati

di suatu malam, saat bulan dan bintang enggan menampakkan sinarnya. waktu itu aku sedang duduk di tepi jalan dengan meminum kopi hitam ,kopiku tinggal separuh. ada rokok di sampingku dan handphone. angin berhembus sepoi2,mendayu.. ndayu membawaku dalan ruang imaji yang baru. aku menikmatinya, angin itu. suara ranting pohon dan daun2 bergesekan. untung saja saat itu kendaraan tidak sedang ramai jadi polusi suara bisa di hentikan sejenak.
saat aku akan menghabiskan tegukan yang terakhir ,tiba2 datang burung merpati putih dan menumpahkan kopiku. tak lama kemudian aku mengamatinya. ternya dia sedang terluka, sayapnya patah kakinya pincang kelopak matanya tercabik. aku tak tau dia kenapa Namun perlahan dia memulai menengok ke atas, begitu juga aku mengikuti gerak kepalanya ke atas. ternyata ada elang yang bergrilya mencari mangsa ternyata luka merpati itu hasil dari tirkaman elang itu. ya.. elang itu besar berkuku tajam Namun paruhnya sedikit cacat. akhirnya aku putuskan membawa merpati itu pulang.
ku balut kakinya dengan telur ayam yg sudah ku pecahkan. begitu pula sayapnya perlahan ku ikat. matanya yg terluka ku beri cairan antiseptik. diapun tertidur nyenyak. aku letakkan merpati itu di dalam inkubator sederhana,terbuat dari kardus bekas tempat speaker dan terpadang lampu 5 wat tergantung sekitar satu jengkal jaraknya. aku hanya berharap dia menjadi lebih kuat, lebih cerdik ,dan lebih berhati-hati. walaupun aku tau dia takkan sempurna ,merpati itu akan tetap memiliki bekas lukanya . Namun setidaknya dia bisa menikmati langit lagi. terbang dengan anggun... .. 😂

Kamis, 06 Oktober 2016

Transplantasi otak gagal

Kalian mentransplantasi otakku dengan pola pikir kalian, lalu kalian pergi begitu saja tanpa menyelesaikan jahitan ini. Bisa saja jahitan itu, terkena bakteri lalu busuk. Terus saja cekok i aku dengan kata2 mutiara kalian yang perlahan hilang karna keputus asaan. Heii.. heii. Heii.. dokter macam apa kalian. Setelak menjahit mulutku ,dan membuka lebar2 telingaku dengan paksa.. ayolah, apa kalian tidak mau menyelesaikannya. Otakku terlanjur kalian racun, mulutku kau buat bisu, telingaku kau buat cacat. Ayolah.. jangan kau buat aku jadi mahkluk upnormal sperti ini.. ku mohon.. percuma bicara dengan dokter2 dungu yang putus asa sperti kalian.. lebih baik aku diam di sini menunggu burung bangkai datang dan memakanku. Tak ada lagi yg dapat ku lakukan sekarang..  aku sudah kalian bikin cacat.. slalu saja memikirkan kpentingannya sendiri. Katanya punya cinta. Tapi ego, dan pola fikir yg keras yg slalu di tonjolkan. Cukup.. hai.. burung bangkai... Haii.. datanglah kemari.. dagingku renyah, manis,empuk, lezar menggoda.. nikamatilah aku.. cabikanmu membuatku serasa di surga.. lagi.. panggil teman temanmu.. trimakasih.. trimakasih.. sekarang aku lebih tenang disini.. yah ..